Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Ruang Kosong 1

Bisakah kamu kosongkan gelasmu sejenak? aku ingin berbicara. biar gelasmu terisi dengan buah pikiranku saja, teguklah dan rasakan apakah isi gelasmu adalah rasa yang memuaskan? Aku kedatangan tamu malam ini. Air mukanya muram, suaranya serak dan mukanya sembab. Aku mencium aroma kegundahan dalam tubuh tamuku. Semalam suntuk ia cuma mengulet dengan bola mata membelalak. Sesekali ia berjalan modar-mandir menatap jendela yang mengarah pada jalan utama dari rumahku. Kopinya sudah dingin, dan akan sangat meninggalakn rasa asam jika kau teguk. Buatku kopi macam itu tak layak diminum karena satu cagkirnya sudah dibaui aroma kopi, tapi kopinya tak lagi seperti kopi. Tamuku bernama keresahan. Adakah cermin yang tembus sampai kedalam? Biar aku bisa tau persoalan macam apa yag melukai organ tubuhku yang paling tersembunyi. Di balik tubuhku mungkin ada luka. Rasanya perih dan nyeri. Mungkin ini luka sayatan, goresan, borok, tusukan atau memar yang berubah menjadi warna biru.

Orang-orang Lalu

Sini aku lihat Wajah bersih dan mata itu. Diam…. Aku mencoba merasakan. Kau tampak tak asing. Benarkah dari masa lalu? Kamu yang didepanku, apakah sengaja mengirimi kabar untuk ku? Sudah berapa lama kamu menunggu? Benarkah hanya untuk memberi pesan untuk ku? Orang-orang lalu Bisa menyapa, sebatas senyum atau berpelukan akhirnya. Memberi beban atau menawarkan tangan kanannya. Saling menangisi kepedihan atau hanya   mencoba untuk tertawa. Ada yang jalan sempoyongan kemudian ditopang atau dibiarkan berjuang sendiri. Orang-orang lalu Memberi pilihan yang tak bisa kau pilih. Ia harus dimenangkan lewat undian, agar kau merasakan salah satu dari dua pilihan yang ditawarkan. Bisa saja selepas bertatap muka kita akan pisah sambil   berjabat tangan atau lambaian tangan saja. Kau bisa pamitan dengan membangunkan aku atau pergi mengendap-endap . Kau bisa dihargainya dengan hidupnya atau senyuman saja. Orang-orang lalu Kupu-kupu Dari manakah ...

1

                Langit sore Jogja, aku melihat awan yang keemasan dan langit yang mulai memudar karena sebentar lagi senja akan datang. Ada kicauan burung gereja dengan kawanan kelompoknya,   pohon yang diam tanpa hembusan angin   dan hawa panas yang menyengat tubuh. Semua terlihat jelas di bibir pintu yang jadi sandaranku ini,   mataku belum sepenuhnya terbuka dan pikiranku masih tertinggal dalam tidur dan kasurku   yang   kempis. Kepalaku berat mungkin karena terlalu lama tidur.       Mataku masih menatap keluar, kunikmati pergantian sore ini menjadi senja, sesekali ada pesawat melintas udara dengan suara bisingnya yang membuyarkan pikiranku.       Sekarang semua orang bisa terbang kemanapun ia suka, manusia sudah tak jauh berbeda dengan burung. Perlahan awan berjalan, bersentuhan dengan langit dan mereka saling bercumbu, kini...

Sepasang Angin

Sudah malam... mari kita berlari kecil lalu mendorong hamparan air laut dengan sedikit sebulan. kita buat gelombang. Gerombolan ikan kecil sudah kepayahan berenang menuju tepian. Ini sudah waktunya... mereka harus menjemput takdir, masuk dalam jaring-jaring besar agar dini hari nanti, Delapan Pria tua yang seharian menggelandang ditengah laut ini bisa pulang. Kita ijinkan mereka Tenang... tangkapan hari ini bisa untuk makan dua hari. Setidaknya anak dan istri tak meringis. Tenanglah pak Tua... badai diperut keluargamu esok usai. Kami hangatkan engkau dengan buaian karena kami membawa pergi dingin berkelana menuju daratan pada tiap-tiap bilik berpenghuni. Tak semua bilikmu tertutup rapat. Rongga reot yang diciptakan oleh salah sat u kawanku yang gusar , hampir merubuhkan bangunan persegi yang kalian bilang rumah. Maafkan kawanku... ketika dia mengamuk, hembusannya terbilang kelewat kencang dan agak lancang karena dengan sedikit pengetahuannya ia ingin adu kekuatan pada lawan ya...

Ayah

Ayah... AKU RINDU.

Jatuh Cinta

Tuhan.. HambaMU satu ini aku mencintainya, maka biarlah ia mencintaiku juga. Tuhan aku mencintainya. Tuhan hambaMu satu ini... aku mencintainya.

Malu

Pertemuan dengan diriku dicermin.           Pada diriku aku ingin minta maaf, tak banyak yang dapat kulakukan untuk engkau yang setia menjagaku. Tanganmu aku pinjam tapi belum kugunakan seperti pesanmu padaku. Saat aku mengemis padamu untuk dipinjami tangan ini untuk bekerja, dengan sedikit perbedaan antara peluh dan airmata yang membasahi mukaku yang keram, kau dengan lembut berkata "gunakanlah tanganku agar kau dibantu olehnya. Supaya Engkau cukup kuat mengangkat beban itu dan tukarkan ia dengan kebahagiaan". Lalu aku pergi dengan senyum merekah-rekah menghilang selama bermalam-malam dan kini aku sadar, tlah kubawa lari milikmu yang berharga. Aku malu duhai engkau yang kutatap dicermin.           Dilain waktu, selang beberapa detik. Aku ingin berterimakasih pada kalian yang pamer senyum bahagia, yang bangga pamer barang mewah, yang puas dengan karir kalian, yang petentengan posting pencapai...