Malu
Pertemuan dengan diriku dicermin.
Pada diriku aku ingin minta maaf, tak banyak yang dapat kulakukan untuk engkau yang setia menjagaku. Tanganmu aku pinjam tapi belum kugunakan seperti pesanmu padaku. Saat aku mengemis padamu untuk dipinjami tangan ini untuk bekerja, dengan sedikit perbedaan antara peluh dan airmata yang membasahi mukaku yang keram, kau dengan lembut berkata "gunakanlah tanganku agar kau dibantu olehnya. Supaya Engkau cukup kuat mengangkat beban itu dan tukarkan ia dengan kebahagiaan". Lalu aku pergi dengan senyum merekah-rekah menghilang selama bermalam-malam dan kini aku sadar, tlah kubawa lari milikmu yang berharga.
Aku malu duhai engkau yang kutatap dicermin.
Dilain waktu, selang beberapa detik. Aku ingin berterimakasih pada kalian yang pamer senyum bahagia, yang bangga pamer barang mewah, yang puas dengan karir kalian, yang petentengan posting pencapaian lewat instagram. Sekelebat itu juga aku tau sangat banyak energi kalian yang dikuras untuk bisa pasang senyum jenis itu. Yaaaa... senyum yang bisa bikin orang nyinyir sibuk buruk sangka pada kalian karna cemburu. Itu senyum harusnya jadi milikku. Detik itu aku sadar selama ini aku menyibukan diri hanya untuk cemburu pada kalian.
Aku malu duhai engkau yang kutatap di layar ponsel.
Detik ini aku menulis, supaya aku teringat bahwa aku mengecewakan diriku dan ingin meminta maaf pada diriku dan pada kalian yang kucemburui. Bahwasanya aku pernah tak tau malu berhayal yang indah-indah dan lupa untuk memantaskan diri dengan hayalan itu.
Disaksikan Laptop yang melek, jari yang membaca pikiranku dan mata yang sepakat jika tulisan ini telah diketik, setidaknya jika aku lupa diri lagi Blogku akan mengingatkankanku akan tulisan hari ini. Hari dimana diriku merasa malu karena tak punya kontribusi berharga untuk bisa punya senyum "seperti itu".
Oh diriku, Lyliana meminta maaf.
Komentar
Posting Komentar