Sepasang Angin
Sudah
malam... mari kita berlari kecil lalu mendorong hamparan air laut dengan
sedikit sebulan. kita buat gelombang. Gerombolan ikan kecil sudah kepayahan
berenang menuju tepian. Ini sudah waktunya... mereka harus menjemput takdir,
masuk dalam jaring-jaring besar agar dini hari nanti, Delapan Pria tua yang
seharian menggelandang ditengah laut ini bisa pulang. Kita ijinkan mereka
Tenang... tangkapan hari ini bisa untuk makan dua hari. Setidaknya anak dan
istri tak meringis.
Tenanglah
pak Tua... badai diperut keluargamu esok usai. Kami hangatkan engkau dengan
buaian karena kami membawa pergi dingin berkelana menuju daratan pada tiap-tiap
bilik berpenghuni. Tak semua bilikmu tertutup rapat. Rongga reot yang
diciptakan oleh salah satu kawanku yang gusar, hampir merubuhkan bangunan persegi yang kalian bilang
rumah. Maafkan kawanku... ketika dia mengamuk, hembusannya terbilang kelewat
kencang dan agak lancang karena dengan sedikit pengetahuannya ia ingin adu
kekuatan pada lawan yang salah. Yaaaa rumah –rumah kalian yang reot dan lapuk
ini tak pantas dibilang lawan sepadan.
Tidurlah
kawan tuaku... tenangkan pikiran kalian. Kesulitan hari ini biarlah berakhir
hari ini. Esok akan punya kesusahnnya sendiri.
Menangis
seperti embun
tidur
berselimut fajar.
Sesedih
apapun engkau,
malam
mu ditemani bintang dan bulan.
Esok
matahari pasti bersinar.
Kegundahan
macam apa yang kau keluhakan?
Sepanjang
hujan disatu hari lalu dihadiahi pelangi.
Saatnya perpisahan kawan Tuaku... aku
harus menyapa daratan setelah memastikan kalian cukup hangat disini..... angin
laut akan menyapa kalian dengan baik dan ramah tamah. Matahari akan segera
datang... kali ini ia berjanji datang tepat waktu. Sapalah keluarga kalian dan
cukup makanlah dua hari ini.
Ditulis Tahun 2015
Komentar
Posting Komentar