Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2012

Mencari

siapa yang jadi tulang? siapa yang jadi remukan? siapa yang jadi sumsum? siapa yang jadi remukan? siapa yang jadi engsel? siapa yang jadi remukan? siapa yang jadi mata kaki? siapa yang jadi remukan? siapa yang jadi tumit? siapa yang jadi remukan? siapa yang jadi ibu jari? siapa yang jadi remukan?

galau

Tuhan..... ingin rasanya aku menyerah melupakan dan melepasakan semua yang tersisa dan berlari dalam ketidak pedulian. Sebenarnya aku tidak ikhlas jika membiarkan diriku larut dalam ketidak berdayaan aku tidak marah pada Mu-Tuhan aku hanya merasa tidak disayangi Aku tau Kau tidak lupa padaku kau perlu waktu untuk memenuhi semua permintaan bukan? Tuhan.... tidak apa-apa jika ini belum waktunya teduhkanlah hati ku biar tak keruh sejukan hati ku biar tak marah senangkan hatiku biar tak menangis Namun bolehkah aku memohon sesuatu yang harus kau penuhi malam ini juga? aku minta agar Engkau mencintai Ku Tuhan malam ini aku akan tidur...sesakit apapun beban hidup aku takan mengeluh lagi asal kau beri aku cinta Mu. NB: ini mutasi FB

Perpisahan

Disisakan kegetiran. Remang2 gelak berselaput reriuhan yg makin lama makin memudar. Kini harap dinanti tangis tak sampai hati. Alkisah menuturkan jabatan bersambung pelukan, menjelma jadi dua belati. Kembang redup menyisakan kenangan. Saya hidup diantarax. Di segelas air berwarna yg juga menyediakan rasa tawar. Aku hentakan kaki seirama dgn jeritan. Kita kecil, botak dan telanjang. Aku membara dalam rasa malu. Saya berkata rindu. Para penjelajah mundur teratur dgn ribuan kaki yg pada tiap betisx di sarungi pelana. Saya yg tersisa dan aku tak lagi bisa mesra. Butir2 air hujan bercucur dan pekat kental sampai di bola mataku. Ia membutakan, menyiangi tiap lembar kenangan, dan menghapus wajah kalian. Aku.. Saya.. Bisa apa...? NB: ini mutasi FB

Dibawah sadar

Kau berlari dimana kau berlari? Kemana kau berlari pergi? Semakin kau pergi, makin kecilah aku. Lihat wajah ku di cermin! Tak sebatang udara pun ada. Kulit ku sangat putih. Laju.. Lajulah lari mu kini. Aku bermain dan melihat bayangan mu. Lari.. Berlari lagi. Semakin cepat kau berlari, makin kecilah aku. Lari.. Aku ingin berlari. Kau dekap tangan ku dan berkata "jangan pergi lagi". NB: ini mutasi FB

Menantang

Aku memimipikan, suatu saat apa yang ku lihat jauh diatas sana dapat aku genggam aku terbang menuju langit,  tempat dimana aku menggantungkan banyak doa dan menyimpan harapan langit aku datang….. menantnag mu! Mengambil banyak hal yang dulu ku titipkan padamu untuk aku genggam selamanya aku merabanya……….. merasakan tiap desiran awan yang berarak mengenai dadaku membelit angin yang serasa bagai puing-puing abu, ia halus tapi meninggalkan rasa di ujung jemari ku aku berlari dan menyiratkan bahwa aku tidak sedang bermimpi sekarang semuanya yang dulu hayalan, nyata sudah. Aku berlari sekencang desiran angin bahagia saat itu aku tertawa… aku ingin melampiaskan perasaan ku dengan raut wajah paling indah hari itu aku sangat bahagia. NB: ini mutasi FB

Solo panas

Awan membiru langit memudar. Senja sudah tak jingga.. Bintang sembunyi ditelan bulan terang yang gemuk dan bulat. Udara mendengus-dengus. Tak akan ada hujan hari ini. NB: ini mutasi FB

Kita

Sekarang bukan lagi masa untuk kau ungkit ini salah siapa. Aku begitu naif sementara kau terlalu egois untuk diriku. Kau ingini apa saja yang bisa memberikan kau apa saja tapi kau tak mampu pelihara yang kau punya. Kau ingin bahagia namun pada akhirnya kau sama saja. Bukalah mata dan lihatlah diriku. Buanglah semua curiga yang terlampau lama kau simpan yang mugkin memberatkan mu. Aku memang begitu dan kau terlalu menyayangi dirimu. NB: ini mutasi FB

satu hari

Aku mencatat bagian yang terlewat dari bibirku. Hari ini gerimis mengguyur tanah Borneo ku, kulihat parit teras rumahku tersumbat aliran air dan sampah yang menggunung serta berbau. aku mendekat dan kudekati lagi, sampai aku tau apa yang sebenarnya mengganjal. Ini adalah cermin, bekas bayangan-bayangan diri kita, terlalu banyak yang kita makan dan sisa kulitnya adalah harapan yang ditanam dan tak akan tumbuh tanpa dipupuk. Hujan beranjak , mendung di ganti matahari, jika kau masih duduk dalam kebekuan dan tawa lepas tanpa beban maka tamatlah kita. Kadang kita berdoa, menuturkan harapan-harapan untuk masa depan. Sering kita menangis dan tiba-tiba tertawa, dan jawaban dari tiap doa itu terkadang adalah TIDAK. Aku mengukir yang lepas dari ingatan ku. Ku robek dinding bagasiku dan kucongkeli perlahan. Cinta adalah semu dan kasih adalah palsu, mana yang terbaik diantara keduanya? Di tanah Borneo ku, kulit kayu dan kerikil telah terlepas dari akar udaranya, ikan tak la...

Sebelah mata

Sebenarnya kehidupan tak layak di habiskan dalam lubuk-lubuk persinggahan. Adalah kita yang mengatas namakan diri bak musafir, tapi tak tau makna dari sebuah perjalanan. Kita gelandangan tersesat. Mencari makan kesana kemari, tak pernah tau jika dedaunan dalam rawa-rawa depan rumah kita dapat menghidupi. Bisakah kita pelihara burung tanpa sangkar? Bisakah kita sehat jika sakit tak disembuhkan? Bisakah kita kenyang tanpa makan? Bisakah kita berubah tanpa kesempatan? Bisakah kita jatuh cinta tanpa pernah bertemu dan bertatapan? Bisakah kita toleran tanpa ada perbedaan? Kita adalah gelandangan jalanan, yg menunjuk kekejaman dunia tanpa sadar, jika yang membuat muak dunia adalah diri kita. Kita adalah bangkai yang terbuang. Tak pernah sadar jika aroma busuk yang menebar berasal dari tubuh kita. Kita... Kita... Kita adalah manusia-manusia yg besar dan sempurna dalam derajat pemikiran kita sendiri. Slama ini kita, kita yang mengaku sempurna hanya mampu melihat segala ses...

Yang Ku Cari di Langit

apa yang ku cari di langit? aku bahagia dalam kegetiran yang merobek hati dalam batas-atas toleran kita berjalan tak usah takut gelap ketakutan tak bisa kita singkirkan berdendang saja sekenanya untuk menenangkan kau dan aku sering tak sejalan tapi kita seimbang dalam sepotong pemikiran akankah kita bersua dalam keterbatasan waktu yang akhirnya tak dapat ditentukan? adanya kau dan aku bagai bulan, yang tetap bermain meski tak ditemani bintang.... ijinkan aku bersandar.... berdiri menengadah sinar matahari semasa kecil ku selalu menatap langit merindu wajah Tuhan dan bercumbu dengan-NYA. tak usah takut... bergeraklah! tak usah ragu... berlarilah! ketakutan tak bisa kita singkirkan berdendang saja sekenanya untuk menenangkan kau dan aku sering tak sejalan tapi kita seimbang dalam sepotong pemikiran semasa kecil ku selalu menatap langit merindu wajah Tuhan dan bercumbu dengan-NYA merindu wajah Tuhan...... bercumbu dengannya....... merindu wajah Tuhan..........

?

Bisakah semuanya berakhir? sementara saya masih hidup anda juga hidup mereka yang juga hidup Bisakah timbul saling pengertian? dan saya masih memiliki ambisi... anda... mereka juga punya...... betapapun inginnya saya mencoba bersabar saya tak bisa pungkiri betapa saya ingin menyepi saja dan tidak turut campur dengan pikiran kalian mengertilah... hargailah..... NB: ini mutasi FB

Rindu

Apa sudah kau rasa....ribuan hal yang selama ini jadi milikmu ternyata tak pernah benar-benar menjadi milikmu? Ia kau genggam, kau rawat, kau jaga dan kau banggakan hilang sudah. Tuhan memberimu sebuah batu... kau tak perlu membaginya, menguranginya ataupun menambahkannya Kau hanya perlu menjaganya. kini batu itu hilang..... apakah Tuhan mengambilnya atu kantongku kurang aman? Saat ini Tuhan sudah sama rapuhnya..... Ia tak sanggup terus memberi. Benih kebaikan yang ia pelihara kali ini menipis sudah. Sementara kita budak-budak peminta telah hilang arah dan terbenam dalam kepulan nafas yang terengah akibat do'a. Apa yang Ia pinta kepada kita kadang tak sebanding.... lantas apakah kalimat sabar hanyalah kamuflase dari ketidakberdayaanNYA dalam memenuhi segala yang dituntutkan? Apakah air mata hanya hadiah bagi kepedihan agar tak melebur sendiri dalam jeritan-jeritan batas akal? Sudahkan kau bicara pada Tuhan sejauh hari ini menutup diri dan berganti? Sudah lela...