Rindu
Apa sudah kau rasa....ribuan hal yang selama ini jadi milikmu ternyata tak pernah benar-benar menjadi milikmu? Ia kau genggam, kau rawat, kau jaga dan kau banggakan hilang sudah.
Tuhan memberimu sebuah batu...
kau tak perlu membaginya, menguranginya ataupun menambahkannya
Kau hanya perlu menjaganya.
kini batu itu hilang.....
apakah Tuhan mengambilnya atu kantongku kurang aman?
Saat ini Tuhan sudah sama rapuhnya..... Ia tak sanggup terus memberi.
Benih kebaikan yang ia pelihara kali ini menipis sudah. Sementara kita budak-budak peminta telah hilang arah dan terbenam dalam kepulan nafas yang terengah akibat do'a.
Apa yang Ia pinta kepada kita kadang tak sebanding.... lantas apakah kalimat sabar hanyalah kamuflase dari ketidakberdayaanNYA dalam memenuhi segala yang dituntutkan? Apakah air mata hanya hadiah bagi kepedihan agar tak melebur sendiri dalam jeritan-jeritan batas akal? Sudahkan kau bicara pada Tuhan sejauh hari ini menutup diri dan berganti?
Sudah lelah kusalahkan diri sendiri karna banyak ketidak mampuanku untuk meraih apa yang ku inginkan. Saat ini fikiran ku bertumpu pada Tuhan..... Apa Ia terlalu jauh ikut campur dalam urusan hidup ku....?
Bahkan aku yang saat ini berani menghardik juga kesepian dan hanya dengan menyebut namanya menjadikan ku tenang......
Aku ingin cari jalanku sendiri.... aku berlari. tiarap. junkir balik dan jalan sempoyongan untuk menembus batas kewajara Tuhan yang menjadi monopoli humanis.
Aku bukan Atheis hanya sijalang yang bingung berjalan kekiri atau kekanan.
Tuhan.....dibanyak pintu aku mengetuk...
ditiap jendela aku mengelus.....
kuhampiri altar-altar Mu....
kubakar dupa-dupa Mu....
kubersujud untuk naman Mu....
kubernyanyi menyebut nama Mu.....
kududuk dalam renungan Firman Mu............
Jalan mana yang ku tempuh?
adakah kiranya ku mengaduh dan kau tak kunjung bersuruh?
lutut ku bermandi gesekan debu yang ngilu dan rindu jalinan mu.....
sebelum ku jamah peti-peti itu
sebelum terbenam tubuh ku...
temui aku dibatas sebelum penghujung waktu...
sijalang hina mengharap dekapan Mu
dalam kepayahan dan banyak ragu..
masih ku simpan rindu.
NB: ini mutasi FB
Tuhan memberimu sebuah batu...
kau tak perlu membaginya, menguranginya ataupun menambahkannya
Kau hanya perlu menjaganya.
kini batu itu hilang.....
apakah Tuhan mengambilnya atu kantongku kurang aman?
Saat ini Tuhan sudah sama rapuhnya..... Ia tak sanggup terus memberi.
Benih kebaikan yang ia pelihara kali ini menipis sudah. Sementara kita budak-budak peminta telah hilang arah dan terbenam dalam kepulan nafas yang terengah akibat do'a.
Apa yang Ia pinta kepada kita kadang tak sebanding.... lantas apakah kalimat sabar hanyalah kamuflase dari ketidakberdayaanNYA dalam memenuhi segala yang dituntutkan? Apakah air mata hanya hadiah bagi kepedihan agar tak melebur sendiri dalam jeritan-jeritan batas akal? Sudahkan kau bicara pada Tuhan sejauh hari ini menutup diri dan berganti?
Sudah lelah kusalahkan diri sendiri karna banyak ketidak mampuanku untuk meraih apa yang ku inginkan. Saat ini fikiran ku bertumpu pada Tuhan..... Apa Ia terlalu jauh ikut campur dalam urusan hidup ku....?
Bahkan aku yang saat ini berani menghardik juga kesepian dan hanya dengan menyebut namanya menjadikan ku tenang......
Aku ingin cari jalanku sendiri.... aku berlari. tiarap. junkir balik dan jalan sempoyongan untuk menembus batas kewajara Tuhan yang menjadi monopoli humanis.
Aku bukan Atheis hanya sijalang yang bingung berjalan kekiri atau kekanan.
Tuhan.....dibanyak pintu aku mengetuk...
ditiap jendela aku mengelus.....
kuhampiri altar-altar Mu....
kubakar dupa-dupa Mu....
kubersujud untuk naman Mu....
kubernyanyi menyebut nama Mu.....
kududuk dalam renungan Firman Mu............
Jalan mana yang ku tempuh?
adakah kiranya ku mengaduh dan kau tak kunjung bersuruh?
lutut ku bermandi gesekan debu yang ngilu dan rindu jalinan mu.....
sebelum ku jamah peti-peti itu
sebelum terbenam tubuh ku...
temui aku dibatas sebelum penghujung waktu...
sijalang hina mengharap dekapan Mu
dalam kepayahan dan banyak ragu..
masih ku simpan rindu.
NB: ini mutasi FB
Komentar
Posting Komentar